Apakah sendi Anda terasa nyeri belakangan ini? Ada yang bilang itu karena Anda kena rematik, tetapi yang lain menganggapnya karena asam urat. Jadi, mana yang benar? Meski sama-sama menyebabkan nyeri sendi, tetapi kedua penyakit ini sebenarnya berbeda. Agar tidak keliru, berikut perbedaan antara rematik dan asam urat yang perlu Anda ketahui.

Perbedaan gejala antara rematik dan asam urat
Rematik dan asam urat sama-sama merupakan jenis dari arthritis atau radang sendi. Keduanya sama-sama menimbulkan gejala kekakuan, pembengkakan, nyeri sendi sehingga membuat gerak Anda menjadi terbatas.

baca juga :Kamu tentu sudah tak asing lagi dengan istilah ikan asin bukan? Sebab kamu pasti pernah mencicipinya meski cuma sedikit saja.

Namun, rematik atau rheumatoid arthritis umumnya memengaruhi lapisan sendi (sinovium). Peradangan dan gejala biasanya dimulai di sendi yang kecil, yaitu tangan, kemudian menyebar ke sendi lainnya, seperti pergelangan tangan, pergelangan kaki, lutut, siku, pinggul, dan bahu.

Gejala rematik, seperti rasa nyeri dan kekakuan sendi, pun biasanya memburuk pada pagi hari setelah bangun tidur atau terlalu lama beristirahat. Selain itu, nyeri sendi pada rematik umumnya simetris atau memengaruhi kedua sisi tubuh, seperti jari tangan kanan dan kiri.

Sementara penyakit asam urat atau gout biasanya memengaruhi sendi yang besar di jempol kaki, tetapi juga bisa terjadi di sendi manapun, seperti pergelangan kaki, lutut, siku, pergelangan tangan, dan jari. Gejala asam urat pun biasanya sering berpindah dan jarang simetris.

Sebagai contoh, rasa nyeri bisa muncul di jempol kaki kiri lalu diikuti dengan jempol kaki kanan, tetapi serangan asam urat berikutnya mungkin saja menyerang salah satu lutut atau pergelangan tangan. Gejala asam urat urat pun kerap kambuh pada malam hari pada saat Anda tidur.

Kedua penyakit ini pun kerap menimbulkan demam pada penderitanya. Namun, seseorang dengan penyakit asam urat lebih sering mengalami demam dibandingkan dengan rematik.

Penyebab rematik dan asam urat yang berbeda
Meski sama-sama penyakit radang sendi, tetapi penyebab antara rematik dan asam urat berbeda. Penyebab rematik adalah gangguan autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imun atau kekebalan secara keliru menyerang jaringan tubuh yang sehat.

Pada kasus rematik, lapisan sendi atau sinovium merupakan bagian persendian yang umumnya terpengaruh. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada sinovium yang kemudian memengaruhi jaringan di sekitar sendi lainnya hingga bisa merusak sendi secara keseluruhan.

Sementara itu, penyebab asam urat adalah kelebihan kadar zat asam urat (uric acid) di dalam darah. Kadar asam urat yang terlampau tinggi akan menumpuk dan membentuk kristal asam urat di sendi, cairan, dan jaringan di dalam tubuh hingga kemudian menimbulkan rasa nyeri pada sendi.

Kadar asam urat tinggi umumnya terjadi karena megonsumsi terlalu banyak makanan yang mengandung purin. Purin inilah yang kemudian diolah tubuh untuk menjadi asam urat.

Cara mendiagnosis rematik dan asam urat tidak sama
Berbeda gejala dan penyebab penyakit, maka berbeda pula cara dokter mendiagnosis mana asam urat atau rematik.

Untuk mencari perbedaan antara rematik dan asam urat, dokter akan lebih dulu menanyakan seputar riwayat kesehatan pasien serta gejala yang dialami. Dokter juga akan menanyakan pola makan dan obat apa saja yang Anda konsumsi, serta hal-hal lain terkait gaya hidup.

Dokter biasanya dapat menemukan perbedaan antara kasus rematik dan asam urat lewat lokasi sendi yang nyeri. Dari hal tersebut, dokter dapat merekomendasikan Anda menjalani berbagai pemeriksaan lanjutan, seperti tes darah, tes cairan sendi, dan MRI atau sinar-X, untuk memastikan {diagnosis|analysis|prognosis}.

Jenis tes yang dijalani memang umumnya sama, tetapi hasil tes kemudian akan menguatkan {diagnosis|analysis|prognosis} dokter. Jika hasil tes darah dan tes cairan sendi menunjukkan kadar asam urat Anda tinggi, tandanya Anda benar memiliki penyakit asam urat.

Sementara itu, hasil tes darah akan mengacu pada kesimpulan rematik bila dokter menemukan beberapa hal berikut:

* Peptida citrullinated anti-siklik.
* Protein C-reaktif.
* Laju sedimentasi eritrosit.
* Faktor rheumatoid.

Sementara melalui tes pencitraan, umumnya kedua penyakit ini sulit dibedakan. Kelly A. Portnoff, seorang ahli reumatologi dari Portland, Oregon, mengatakan kedua penyakit ini sama-sama akan menunjukkan kerusakan sendi melalui tes tersebut.

Perbedaan pemberian obat antara rematik dan asam urat
Rematik dan asam urat memang sama-sama menimbulkan nyeri sendi. Dengan demikian, keduanya pun mendapatkan obat yang sama untuk meredakan gejala tersebut, seperti penghilang rasa sakit, antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan kortikosteroid.

Namun, penyebab kedua penyakit ini berbeda, sehingga penderitanya akan mendapat obat tambahan yang berbeda pula. Secara khusus, obat rematik yang umumnya diberikan, yaitu {disease|illness} modifying anti-rheumatoid {drugs|medicine|medication} (DMARDs) atau DMARDs biologis.

Sementara itu, obat-obatan asam urat yang khusus diberikan, yaitu colchicine, allopurinol, dan probenecid, untuk menurunkan atau mengendalikan kadar asam urat. Seseorang dengan penyakit asam urat pun perlu menghindari berbagai makanan yang menjadi pantangan asam urat atau yang mengandung purin tinggi untuk membantu mengontrol penyakitnya.

Ketahui cara mencegah rematik dan asam urat
Penyebab rematik dan asam urat berbeda sehingga cara mencegah kedua penyakit ini pun berbeda. Penyakit rematik umumnya sulit dicegah karena penyebab dari gangguan autoimun itu sendiri belum diketahui pasti.

Namun, risiko rheumatoid arthritis bisa diturunkan dengan berhenti merokok, berolahraga, serta menghindari paparan lingkungan dan berbagai pantangan rematik lainnya. Sementara untuk mencegah asam urat adalah perubahan gaya hidup dengan menghindari makanan yang mengandung purin tinggi dan rutin berolahraga.

baca juga :Setelah reli yang luar biasa ini, para investor memulai tahun baru dengan bertanya-tanya apakah membeli saham perusahaan …